CEKO (Cerita Koas) - ODGJ
ODGJ
Penyakit gangguan mental atau yang dikenal juga dengan
penyakit gangguan jiwa adalah penyakit yang mempengaruhi emosi, pola pikir, dan
perilaku. Mereka yang mengalami kondisi tersebut dikenal dengan Orang dengan
Gangguan Jiwa (ODGJ). Seringkali orang
awam dengan enteng memberikan label “orang gila” pada mereka yang mengidap
gangguan mental. Selain diberi label “orang gila”, mereka juga diasingkan dari
orang-orang yang dicintai, dengan alasan “mengganggu”. Benar bukan ?
Khusus soal ini, saya memiliki pengalaman pribadi
khususnya di bagian kesehatan jiwa. Maklum saja sebagai dokter muda, yang
memiliki kewajiban mengenal berbagai penyakit dari penyakit fisik hingga
penyakit mental, mau tidak mau harus merawat dan berinteraksi dengan mereka,
ODGJ.
Awalnya, masuk di bagian kesehatan jiwa berasa
takut. Gimana gak takut, yang harus saya hadapi adalah ODGJ. Berekspetasi bakalan
di kejar-kejar, diteriak-teriakin, dan dipukul, ternyata realitanya berbeda.. Setelah
masuk, ya ternyata gak semenakutkan yang saya bayangkan, malah bisa dibilang
mereka lucu-lucu (lumayan buat menghibur dikala suntuk). Ada yang muter-muterin
tempat tidur bilangnya lagi tawaf, ada yang buang-buang air minum ngakunya
kebanjiran sampai yang beceloteh punya istri dua, padahal dari status pasien
belum menikah. Gokil !!
Rumah sakit jiwa tempat pendidikan saya ini
menjalankan pembelajaran kesehatan jiwa dengan membagi menjadi beberapa rotasi
ruangan. Ada ruangan poli jiwa, ruangan alfa, ruangan teta, dan ruangan lamda.
Poli jiwa diperuntukkan bagi pasien yang ingin sekadar
berkonsultasi mengenai gejala kesehatan jiwa atau bahkan bagi pasien dengan
pengobatan rawat jalan. Awalnya mikir pasien jiwa sedikit. Tetapi kenyataannya
tidak. Pasien jiwa begitu banyak, sampai ruangan poli yang besar pun tidak
cukup menampung pasien-pasien tersebut. Pernah saya dapat satu hari jaga poli
jiwa dengan pasien yang mencapai 100 orang (fenomena yang langka untuk
ditemukan di poli penyakit lain). Disini saya dapat menarik kesimpulan,
bahwasannya kesehatan jiwa itu penting. Percuma memiliki fisik yang kuat, tapi
kesehatan mental tidak sehat. Tidak akan terdapat keseimbangan dalam tubuh jika
antara kesehatan fisik dan mental tidak sehat, dimana akan berdampak pada
aktivitas.
Selain pernah dapat pengalaman dengan pasien
membludak, pernah juga dapat pengalaman mengharukan. Gak cukup sekali, bahkan
sampai dua kali pada hari yang sama. Pertama, saat saya berjaga diruangan alfa,
ada seorang pasien (sebut saja si D) datang menghampiri dan bertanya pertanyaan
yang membuat bulu roma bergetar. “kamu sakit apa? kenapa di rawat?” terus saya
jawab “saya gak sakit? Saya dinas sini”. Terus dia jawab balik “maaf dok, saya
enggak tau. Dokter pake masker sih”?...Sumpah lucu banget. Dikira saya sakit
juga..hahaha
Lumayan banyak cerita sama si D ini, sampailah di topik
pembicaraan mengenai anak. Ternyata Si D ini menyebutkan bahwa dia seorang ibu
dengan empat orang anak. Saat saya minta si D menyebutkan nama-nama anaknya
secara berurutan, si D bisa menjawab dengan tepat (saya konfirmasi ulang jawaban
si D melalui status pasien)… Terkejut… Si D yang mengalami gangguan mental tetap
bisa menyebutkan nama anak-anaknya dengan benar. Ini yang dikatakan pepatah “kasih
ibu sepanjang masa”. Seberapa sulit keadaan, seorang ibu akan selalu mencintai
dan mengingat anak-anaknya…Terharu.
Kedua, masih di ruangan alfa (lupa kasih tau, kalau
ruangan alfa itu ruang tenang bagi ODGJ yang baru masuk RSJ). Seorang pasien
(sebut saja si M) baru masuk keruangan alfa dengan keadaan mengamuk dan marah-marah
dengan menyebutkan kata-kata kurang pantas yang bersarang dikepalanya. Menurut status
pasien, si M mengalami depresi berat. Disaat itulah, nyali saya yang ada di
level up turun menjadi level down. Maklum saja, baru pertama kali melihat
pasien mengamuk..
Setelah si M tenang dan bisa mengkontrol diri,
tiba-tiba si M memanggil saya. Cemas dong. Tapi, dengan keberanian yang kuat,
saya beranikan diri mendekat dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh si M. Ternyata
si M menanyakan “jam berapa sekarang?”. Saya jawab “jam 7 malam”. Terus si M
jawab balik “dokter, saya belom sholat magrib. Saya mau sholat magrib’. Terkejut
dong!! Bahkan si M pun hapal dengan urut-urutan tayamum (btw, si M enggak
diperkenankan keluar ruangan alfa, ditakutkan bisa mengamuk tiba-tiba jadinya
tayamum) dan menanyakan arah kiblat kepada saya. Sungguh besar kuasa tuhan. Seorang
ODGJ masih mengingat tuhan. Dimana orang dengan akal sehat pun belum tentu
ingat dengan sang pencipta.
Oke, inti dari cerita panjang dan gak jelas ini, saya pribadi ingin kasih tau aja buat kamu yang membaca ini bahwasannya ODGJ gak seseram yang dibayangin. Mereka perlu bantuan kita untuk memulihkan kembali memori, pola pikir, dan emosi mereka yang tidak stabil menjadi stabil. Dan mungkin, buat kamu yang sekarang berjuang melawan mental illness, jangan sungkan datang ke psikolog ataupun psikiater untuk mengkonsultasikan masalah kamu. Dengan datang ke psikolog atau psikiater bukan berarti kalian terjudge “gila”. Kamu hanya perlu orang yang lebih ahli dibidang ini demi kesehatan mental. Please, jangan egois dengan diri sendiri. Mental dirimu belum tentu sekuat mental orang lain..
Komentar
Posting Komentar