DIA
DIA
Kenalilah musim hujan yang basah dan
kemarau, meranggaskan daun-daun kering di sepanjang hari dalam dua
belas purnama.
Mungkin
selama itu tunas yang kecil mulai menjadi pohon yang kokoh.
Ketika
senja turun di antara bukit-bukit tak berpenghuni, mungkin di situlah kejenuhan
mulai muncul.
Saat itu juga impian tak lagi berharga karena aku sudah sadar
bahwa itu hanyalah patamorgana semata.
Ibarat
angin yang berlalu lalang, tidak selalu menyejukan karena tanpa kita sadari
mereka dapat merusak segala yang ada di sekitarnya.
Mungkin sama sepertiku yang
berada di dekatmu hanya memberi luka dan membuatmu kecewa. Jadi, lebih
baik kau hindari saja angin ini.
Maaf untuk
itu..
Jika
hatiku gagal aku selipkan di hatimu.
Paling tidak aku akan membagi lukanya
dengan yang lain, biar semesta yang menulis akhir ceritanya tentang pertemuan
tanpa rencana, tentang bahagia sebagai penyempurna dan luka sebagai
pembelajarnya.
Semesta
tolong jaga dia dan bahagiakanlah dia hari ini, esok, dan seterusnya.
Karena
sekarang aku tak lagi dengannya. Untuk itu aku titipkan dia padamu dan kuharap
dia lebih bahagia dengan orang yang engkau pilihkan
Waahhh
BalasHapusWahhhhh
Hapus